hei. sebelum kalian mulai membaca saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. kalian panggil saja Acel. saya hanya anak ramaja yang sangat menyukai kisah yang bernuansa romantis. kali ini saya ingin sekali menceritakan kepada kalian seberapa romantis nya kakek dan nenek saya bertemu. nenek saya suka sekali bercerita, dia banyak bicara, kadang dia juga suka menceritakan hal yang kadang tidak perlu untuk di ceritakan (seperti dulu kalau jalan keluar rumah harus pake kaki kanan duluan) karena itu yang di ajarkan oleh nenek buyutnya. hahaha saya sangat suka semua tentang nenek saya. hari ini saya dan nenek saya akan menceritakan kepada kalian semua bagaimana nenek saya yang sangat amat cantik ini dapat bertemu. ketika saya menulis ini di laptop saya nenek saya membaca sambil mencubit telinga saya sambil berkata "kamu jangan macam macam sama istri panglima Tempur ya " ya nenek saya merupakan istri dari panglima perang yang dulu pernah berjuang Di kota yang berbatasan dengan Timor Timur yaitu Atambua. dengan senyuman manja saya pun memeluknya dan berkata "ceritakan lagi". Lalu dia mulai bercerita :
(saya akan mencerikannya untuk kalian oke. selamat membaca) :)
jaman itu dimana belum ada hp belum ada lampu, belum ada trend trend seperti sekarang dan bla bla bla... nenek saya tidak bersekolah dulu di atambua banyak orang yang datang nenek saya waktu itu berumur sekitar 19 ketika dia bertemu dengan opa saya. ini bermula dengan ketika nenek saya
nenek dulu hanya punya beberapa teman dekat saja, selain dari itu, semuanya merupakan saudari nenek. nenek saya tinggal di rumah yang agak jauh dari keramaian lebih tepatnya di atas gunung dan jika ayah nenek saya ingin pergi ke tempat jauh maka nenek akan di titipkan kepada ade dari ayah nenek saya. pada suatu hari, ayah nenek saya ingin pergi jauh untuk bertemu dengan beberapa tetua adat yang berada di atambua, maka nenek saya di titipkan sementara di rumah tantenya. disana, dia hanya memiliki 2 teman baik, selain dari 2 teman baiknya itu? mereka hanya segerombolan anak muda yang datang hanya untuk memastikan bahwa nenek saya aman di rumah tantenya.Bukan karena nenek saya anak papa, akan tetapi karena ayah dari nenek saya merupakan orang yang cukup berpengaruh di desa tersebut jadi mereka ingin memastikan bahwa anak kesayangan semua orang itu sampai ke rumah tantenya dengan selamat.
Di rumah tantenya nenek saya tersebut, nenek saya dengan bebas bisa bicara dengan siapa saja, dan melakukan apa saja, termaksud belajar dan ber jalan- jalan. pada sore haripun teman-teman dari nenek saya mengajak nenek saya untuk pergi mencari udara segar di luar, mereka pun dengan antuisias mengajak nenek saya. dengan teriakkan yang amat sangat gembira salah satu teman nenek saya pun berkata "ayo juliana, di luar dingin, jangan lupa pakai jeket" (FYI nenek saya bernama Juliana Bete Doben yang artinya Juliana anak kesayangan) kemudian nenek saya meminta ijin ke tantenya dan kemudian keluar bersama kedua temannya. Jalan waktu itu tidak semulus jelanan sekarang, waktu itu masi dalam penjajahan portugis (jadi banyak cowok ganteng dari portu,heheh) termaksud kakek saya yang sering nongkrong sama teman-temannya. kakek saya bernama joao, dia sangattampan, tinggi, putih, kekar, dan dulu lumayan di segani karena kakek saya sering terlihat berjalan dengan orang-orang berada, kakek saya kadang terlihat berbicara dengan kapten utama orang portugis, pada saat nenek saya dan teman-temannya ingin berjalan pulang, dengan tidak sengaja mereka pun berpapasan dan joao mudah pun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama (ini terdengar aneh, tapi percayalah, saya saja terbunga bunga mendengar cerita ini dari nenek saya) pada awalnya nenek saya tidak terlalu memperhatikan kakek saya karena dia pikir mungkin itu hanya orang yang lewat dan dia juga tidak perduli sama sekali, akan tetapi lama kelamaan dia pun menyadari bahwa dia bertemu dengan orang yang sama berkali-kali dan dia merasa bahwa kakek sudah mengikuti nya dari awal saat mereka berpapasan.
Nenek saya pun tiba-tiba berubah menjadi panik karena takut akan di kurung oleh opa saya dan di paksa bekerja sama seperti cara para orang portugis memperbudak orang orang di desa tersebut tapi mengancam mereka jika mereka berani memberitahu kepada tetua adat di sana maka desa mereka akan di jajah dan mereka akan membunuh semua orang. pada saat itu nenek saya dengan panik dan agak sedikit berlari ingin agar cepat sampai di rumah, karena mereka hanya berjalan kaki itu sangat mudah untuk joao yang menggunakan motor untuk menjangkau mereka. di dalam hati nenek saya sudah keluar beberapa doa dan kadang semua sumpah untuk kakek saya agar segera menyingkir. keinginan Juliana muda pun terwujud, Joao dengan motornya melaju ke depan dengan cepat dan menghilang begitu saja, Juliana muda pun terlihat lega. mereka pun kembali berjalan dengan santai sambir bercerita namun waktu mereka sampai di pertigaan hampir dekat dengan rumah tantenya Juliana, terlihat Joao sedang duduk memainkan gitar bersama teman temannya. Juliana pun sangat takut, maka dari itu juliana bersembunyi di balik teman-temannya. pada saat juliana melewati si joao, si joao pun berteriak "hei, saya tidak pernah melihat kamu disini, siapa nama kamu" mereka pun tidak menjawab dan terus berjalan,lalu kemudian joao dengar motor segera menyusul denga salah seorang temannya, dia mendapati Juliana yang masi ketakutan bersama dengan temannya sedang istirahat sebentar karena cape. lalu joao pun bertanya kepada salah seorang wanita yang dia kenal. joao berkata "siapa dia" lalu teman dari juliana pun berkata "oh itu anaknya tuan raja bokur" (saya memanggil opa buyut saya dengan sebutan avo bokur. avo berarti opa atau oma dan bokur artinya gendut) tanpa berpikir panjang joao lansung berkata, "saya naksir". "sama siapa?" tanya teman juliana. "sama anaknya tuan raja" kata opa saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar